Menafsiri Nietzsche dengan kebutuhan untuk percaya

rep/www.salihara.org

rep/www.salihara.org

 

 

 

 

 

“Tuhan sudah mati,” kata Nietzsche suatu kali—kitalah pembunuh-Nya.” Pernah dengar ada manusia super yang membunuh Tuhannya di pasarnya? Ingin tahu siapa, bagaimana dan kenapa?

Program Terkini, Serambi Salihara, akan kembali menggelar Seri Kuliah Umum Filsafat dengan tema Nietzsche: Kedalaman Pemikir Soliter pada Sab, 06 April 2013 16:00 – 18:00 WIB.

Salihara akan menghadirkan Pembicara,   A. Setyo Wibowo.  A. Setyo Wibowo (Romo Setyo), yang merupakan pengajar di STF Driyarkara Jakarta, akan membahas sosok filsuf penting ini dalam empat kali pertemuan.

Romo Setyo meraih gelar Bakalaureat Teologi (1996—1999) dari Pontificià Università Gregoriana, Roma, Italia. Sementara gelar S-2 Filsafat (2001), gelar DEA (2003) dan  gelar Doktor Filsafat (2007) ia raih dari Université Paris I–Panthéon Sorbonne, Paris, Prancis.

Jadwal Seri Kuliah Umum “Tentang Nietzsche” selengkapnya adalah: Sabtu, 06 April 2013, 16:00 WIB dengan tema Nietzsche: Kedalaman Pemikir Soliter. Sabtu, 13 April 2013, 16:00 WIB bertema Kehendak dan Kebutuhan untuk Percaya. Sabtu, 20 April 2013, 16:00 WIB akan membeahas Kematian Tuhan dan Genealogi dan yang terkahir Sabtu, 27 April 2013, 16:00 WIB, Übermensch.  Melalui website resmi mereka di ww.salihara.org, HTM persesi kuliah umum ini Rp 200. 000.

Siapa Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dikenal dengan julukan “Pembunuh Tuhan”. Tidak salah, juga tidak benar sepenuhnya. Filsuf dan ahli filologi kelahiran Jerman ini tidak melulu membicarakan kematian Tuhan, tapi juga manusia ideal di zaman modern yang nihilis dan lain-lain soal. Kesalahpahaman terhadap Nietzsche dan karyanya lantas menempatkannya sebagai filsuf yang dipantang oleh banyak orang.

“Kuliah ini hendak menawarkan tafsir atas Nietzsche yang berlandasan pemikirannya tentang “kebutuhan untuk percaya”. Bahwa manusia selalu butuh memercayai sesuatu untuk mengutuhkan dirinya. Dari situlah muncul fanatisme. Agama, ideologi, sains, dan filsafat telah diubah menjadi “ide mumi” oleh orang-orang fanatik. Ketika kebenaran menjadi mumi, apa pun yang ditambahkan kepadanya kemudian tidak akan mengubah kenyataan bahwa ia “sudah mati”. “Tuhan sudah mati,” kata Nietzsche suatu kali—kitalah pembunuh-Nya.” Demikian penjelasan Humas/panitia Seri Kuliah Umum Filsafat melalui www.salihara.org.

Selain refleksi tentang kedalaman sang pemikir soliter, kehendak dan kebutuhan untuk percaya, dan kematian Tuhan (analisis genealogi), rangkaian kuliah umum ini juga membahas jenis manusia yang menurut Nietzsche mampu mengiyai realitas apa adanya, manusia yang melampaui (Übermensch), yang figur paripurnanya adalah bayi.

“Karena bersifat rangkaian dan demi mendapatkan gambaran yang utuh tentang Nietzsche, kami sarankan anda mengikuti seluruh rangkaian.” Tutupnya. [SC o1]

About these ads

sampaikan opini/komentar anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s