Antara New York dan Jakarta

affair senoSiapa bisa menjamin tidak ada orang berpikir untuk menghancurkan Monas?

Menara Kembar yang telah menjadi ikon New York itu dipilih untuk diledakkan, karena para teroris memang ingin melecehkan sebuah citra, dan citra itu adalah citra Amerika. Bagaimanakah suatu bangunan menjadi citra Amerika? Pertama, bahwa keduanya disebut World Trade Center atawa Pusat Perdagangan Dunia, sehingga sekaligus juga menjadi monumen bagi semangat dagang yang merupakan jalan hidup Amerika, yakni kapitalisme; kedua, bahwa kapitalisme itu merupakan sebuah sukses, sehingga bisa diwujudkan dengan suatu citra yang terdapat pada gedung itu : tinggi, kuat, besar; dan ketiga, bahwa citra itu sekaligus mengesankan suatu sikap yang jumawa, sehingga –demikianlah jalan pikiran si teroris- harus dihancurkan.
Andaikanlah jalan pikiran itu sangat inferior dan kerdil, tidakkah kita bisa menyimak kembali, bagaimana pertumbuhan sebuah kota harus dihubungkan dengan citra mengejar kemajuan, dan pada gilirannya diusahakan menjadi bentuk konkret dari apa yang disebut kemajuan itu sendiri. Pertanyaannya : mestikah jadi begitu? Mestikah sebuah kota yang merupakan simbol kemajuan menjadi seperti New York itu? Dalam konteks Jakarta, mestikah pertumbuhannya di masa depan akan meniru-niru citra kemajuan yang disimbolkan kedua gedung yang dihancurkan itu, yakni tinggi, kuat, dan besar? Masalahnya bukanlah bahwa setiap gedung pencakar langit kini akan sangat mungkin ditabrak setiap pesawat, tapi karena yang bisa dan sebaiknya ditiru bukanlah hanya gedung-gedung tinggi itu.
New York disebut sebagai ibukota dunia bukanlah karena kapitalisme, melainkan karena keterbukaannya kepada segala bangsa. Pencakar langit adalah wajahnya, tetapi hatinya adalah bekas-bekas gudang yang menjadi tempat pertunjukan teater kelas satu, yang dengan rendah hati hanya mengharapkan 50 sampai 100 penonton. Dari kejauhan hanya terlihat sekumpulan gedung yang tandus, tetapi trotoirnya menampung kafe-kafe yang akrab, hangat, dan manusiawi. Namun kota-kota Dunia Ketiga yang sedang membangun hanya mengacukan New York kepada kesan kejumawaannya. Ibarat kata kalau orang punya uang membangun rumah, ia hanya peduli kepada angkuhnya tiang-tiang Romawi dan lupa kepada kedamaian sebuah gubuk. Kuala Lumpur membangun gedung Petronas dengan ambisi menjadi gedung tertinggi, tak lebih dan tak kurang, jelas-jelas sebagai pernyataan, “Kami ini sukses lho!”
Apakah perlu begitu? Apakah memang harus begitu? Bahwa kebahagiaan adalah sukses, dan sukses adalah tinggi, kuat, dan besar? Amerika Serikat telah selalu mencitrakan hal itu, sehingga menimbulkan inferioritas yang begitu kuat kepada negeri-negeri lain di dunia, apalagi kepada musuh-musuh politiknya, sehingga mengakibatkan perlawanan putus asa bernama terorisme itu. Penabrakan Menara Kembar boleh ditafsirkan sebagai ekspresi rasa syirik yang tak boleh dihalalkan, tapi siapa bilang penabrakan itu tidak juga akan dilihat sebagai tindakan kepahlawanan, dan karena itu justru menimbulkan inspirasi? Siapa bilang tidak ada pihak yang ingin menghancurkan patung Monas? Perdebatan tentang rencana pembuatan patung Garuda Wisnu di Bali, yang tingginya melebihi patung Liberty, bukanlah hanya karena dipertentangkan dengan nilai-nilai normatif yang berlaku dalam agama Hindu Bali, melainkan juga karena citra tinggi, kuat, dan besar itu rasa-rasanya tidak mewakili kerendahan hati manusia – toh patung itu dengan semangat kompetisi liberal terus diperjuangkan juga.
Dengan kata lain, seberapa jauhkah kita bisa meredam kemungkinan timbulnya rasa syirik itu? Kalau tidak ingin tetangga jahil main katapel, di dalam kampung jangan membangun rumah tingkat empat. Tetapi yang berlangsung biasanya sebaliknya, sedangkan bumi ini adalah hamparan kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan. Seberapa jauhkah pulau-pulau kemajuan seperti New York itu akan mengundang rasa cinta? Karena kehangatan manusiawi kafe-kafe dengan musik jazz penuh improvisasi yang menguak kemacetan budaya terselimur oleh bayang-bayang pencakar langit yang jumawa. Karena pesona teater seratus kursi di bekas gudang tua dan toko-toko buku yang komplet terselimur oleh kegemerlapan butik-butik termahal di dunia yang hanya melayani orang-orang snob, justru dari negara-negara Dunia Ketiga yang bergelimang korupsi. Kepada siapakah sebetulnya pertumbuhan peradaban dipersembahkan?

Tepatnya, kepada kota manakah Jakarta akan mengacu? Kepada peradaban macam apakah Jakarta akan terpengaruh? Kepada falsafah kehidupan macam apakah kita akan berkiblat? Kepada citra kemajuan seperti apakah Jakarta akan diarahkan? Kepada yang tinggi, besar, dan kuat, tetapi mengundang kecemburuan, ataukah kepada kerendahan hati yang damai dan menenangkan? Seperti New York, Jakarta adalah juga kota yang penuh sesak dan campur aduk, seberapa jauhkan mereka yang tertindas, tergencet, dan tidak berdaya karena terinjak-injak, tidak akan mengarahkan dendam sosial politiknya kepada ikon kemajuan yang serba tinggi, besar, kuat, dan gemerlapan?
Hancurnya Menara Kembar New York menunjukkan bagaimana sejarah umat manusia yang bercabang-cabang telah bertabrakan. Jakarta dalam latar Indonesia yang tak kalah ruwet masih bisa menghindarinya. Kalau mau.

Rep: Posted on 3 Mei, 2007 by sukab / http://duniasukab.com/2007/05/03/antara-new-york-dan-jakarta/

 

 

 

sampaikan opini/komentar anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s