Isabel Allende dan Prosa orang-orang tersingkir

imagesSetelah presiden Salvador Allende terbunuh dalam huru-hara kudeta militer pimpinan Augusto Pinochet (1974), ia meninggalkan Chili. “Kami mengira akan tinggal beberapa bulan saja di Venezuela, lalu pulang ke Chili dengan perasaan tenang,” begitu ia menjawab tanya seorang wartawan. Tapi, ternyata ia telah menghabiskan waktu 13 tahun di Venezuela, dan sejak 1987 menetap di California, AS. Ia yang semula pesimis bahwa diktatorisme di Chili akan berakhir itu adalah Isabel Allende, novelis yang terusir dari tanah airnya, keponakan mendiang presiden Chili yang menurut pendukung kudeta, mati bunuh diri. Dari tangan Isabel telah lahir The House of Spirit (1982), novel best-seller di Eropa, AS, Amerika Latin dan Australia. Sukses itu berlanjut dengan Of Love and Shadow (1984), Eva Luna (1985), Infinite Plan (1991), dan The Daughter of Fortune (1999), yang baru saja terbit dalam edisi Indonesia.

Dunia imajiner dalam novel-novelnya identik dengan orang-orang tersingkir, atau dalam bahasa Isabel; orang-orang di luar payung besar kemapanan. “Saya berpihak pada mereka yang tersingkir. Mereka tidak mungkin dapat perlindungan,” ungkapnya suatu ketika. Mungkin maksud Isabel, orang-orang terusir, sebagaimana ia. Inilah muasal dari karakter Eva Luna, Irene, dan Fransisco, dalam karya-karyanya terdahulu. Begitu pula dengan Eliza dalam The Daughter of Fortune. Gadis tak bersilsilah, yang tumbuh dalam keluarga aristokrat asal Inggris di Valparaiso, Chili. Bayi Eliza ditemukan di depan pintu rumah Rose, dalam kardus, diselimuti sweater usang. Semula, Jeremy (kakak Rose) keberatan menerima bayi itu. Tapi karena Rose bersikukuh hendak merawatnya, Jeremy mengalah. Berbeda dengan Jeremy, saudara Rose yang lain, John Sommers, malah menyambut Eliza dengan penuh-riang. Ia berharap, bayi berwajah Indian itu dapat menghibur Rose, setelah hatinya remuk akibat pengkhianatan seorang lelaki di masa lalu─itu sebabnya Rose bercita-cita hendak menjadi perawan tua.

Sejumlah karakter dalam novel itu adalah manusia-manusia bermasalah. Rose sengaja “diasingkan” dalam perantauan jauh ke Valparaiso, oleh Jeremy dan John. Sebab, bila ia masih di London, itu sama saja dengan mengabadikan aib dalam keluarga mereka. Rose pernah terjebak dalam kegairahan cinta pertama dengan seorang musisi dari Wina, Karl Bretzner, yang sangat dikaguminya. Ia rela menyerahkan kesuciannya pada Bretzner, hingga berujung dengan kehamilan di luar nikah.

Karakter dengan situasi keterpelantingan eksistensial yang lain adalah Tao Chien, imigran Cina yang terdampar di Chili, setelah berlayar selama berbulan-bulan. Berbekal kemampuan dalam pengobatan herbal, Tao mempertahankan hidup di perantauan. Saudara-saudaranya jadi gembel di Canton, dan salah satu adik perempuannya “terjual” untuk menjadi pelacur di Hong Kong. Petaka Tao, setali tiga uang dengan nasib Jacob Todd, misionaris asal London yang secara tidak hormat dipecat dari persekutuan. Satu-satunya yang membuat ia bertahan di Chili adalah harapan bahwa Rose bakal menerima cintanya. Tapi, cintanya abadi dalam tepuk sebelah tangan, hingga Todd pergi dengan kemurungan yang tak terpermanai.

Penggalan sejarah tentang “Demam Emas” (Gold Rush) di California (1849) yang habis-habisan dieksplorasi Isabel membuat Daughter of Fortune bukan sekadar roman percintaan belaka, tapi juga menyuguhkan perspektif baru tentang perbudakan dan rasisme, di sepanjang musim Demam Emas, setelah Texas, Arizona, New Mexico, Nevada, Utah, dan California─yang sebelumnya wilayah Mexico─jatuh ke tangan AS. “Ini perspektif kaum Hispanik,” ungkap Isabel dalam sebuah interview di January Magazine (1999). Deman Emas membuat Joaquin Andieta, kekasih Eliza, berlayar ke California, tak lama setelah cinta mereka bersemi─di luar pengetahuan Rose─dan benih Andieta tumbuh di rahim Eliza. Kegilaan cinta pertama Eliza seperti mengulang kembali nestapa Rose di masa silam. Setelah menyerahkan segalanya, Eliza ditinggal pergi. Baginya, kesalahan itu tak bakal termaafkan. Maka, sebelum terusir dari rumah Rose, dalam keadaan hamil muda, ia nekat menjadi penumpang gelap di sebuah kapal yang bakal berlayar ke California, menyusul Andieta. Berbulan-bulan ia terombang-ambing oleh gelombang samudera Pasifik. Jika bukan karena kemanjuran pengobatan herbal Tao Chien, pendarahan hebat yang dialaminya tentu bakal membuat riwayat perempuan itu akan tamat di tengah laut. Eliza selamat, meski janin di rahimnya tak tertolong. Tao Chien nyaris membuat Eliza mendua, dan tergoda untuk melupakan Andieta.

Daughter of Fortune juga menampilkan kisah legendaris bandit kelas berat, Joaquin Murieta, yang telah menghabisi ratusan orang kulit putih, sebagai balasan atas kesewenang-wenangan mereka merampas tanah kaum Hispanik, mengingatkan kita pada The Life and Adventures of Joaquin Murieta (1854) novel karya John Rollin Ridge, juga lakon Fulgor y Muerte ae Joaquin Murieta yang pernah diperankan oleh Pablo Neruda. “Saya menulis tentang Robin Hood Amerika Latin itu dari sudut pandang lain,” ungkap pengarang dalam Isabel Allende, Life and Spirit (2002). Murieta makin menakutkan berkat provokasi seorang wartawan bernama Jacob Freemont yang terus menyebarluaskan sepak-terjangnya di dunia perbanditan California. Jacob Freemont tak lain adalah Jacob Todd, bekas misionaris korup yang insyaf dan berganti nama. Peristiwa kebetulan yang dipaksakan, guna membuhul jalinan kisah yang terlanjur dibuat runyam.

Penggunaan istilah “stroke” saat menceritakan penyakit Augustin del Valle─bangsawan Chili─dalam kerja penerjemahan edisi Inggris novel itu terasa janggal. Pada 1849, tentu terminologi “stroke” masih asing. Namun, kekeliruan itu seolah terlupakan oleh sebuah momentum ketika tersingkapnya misteri siapa sebenarnya Eliza. Pertanyaan itu terjawab dalam perseteruan antara Rose, Jeremy, dan John. Jeremy menggangap Eliza telah menghukum dirinya sendiri, dan karena itu tak perlu dicari. Lagi pula, Eliza bukan bagian dari keluarga mereka. Rose menyanggah, Eliza bukan orang asing, ia putri kandung John Sommers. Sweater yang membungkus bayi Eliza saat ditemukan adalah milik John. Maklumlah, John seorang pelaut, di setiap pelabuhan yang disinggahinya, selalu ada perempuan yang berlabuh di pangkuannya.

Eliza yakin bahwa bandit yang disebut-sebut berasal dari Chili itu adalah Andieta, kekasihnya. Sebab, ciri fisik Andieta persis dengan Murrieta. Tak terpastikan apakah Murieta yang akhirnya tertembak mati adalah Andieta. Tak tertuntaskan apakah John berhasil menemukan Eliza di California. Kisah bersudah dengan kesan hambar dan datar, meski dengan sedikit pemakluman bahwa bila Rose dan John berhasil menemukan Eliza, ujung dari riwayat ini akan menjadi biasa, seperti kisah cinta lazimnya. Justru di sinilah kekuatan Daughter of Fortune, sebagaimana disinyalir Han Stavans (1999), “moves from the ordinary to the mythical”, bergerak dari realitas yang biasa menuju fantasi mitologis. Isabel menyangkal pengamatan yang menimbang novel-novelnya bersemangat Realisme Magis seperti karya-karya Gabriel Garcia Marquez. Dalam The Art and Craft of The Political Novel (1989) ia menegaskan, “dunia ketiga memerlukan ketersingkapan realitas serinci mungkin, ketimbang eksperimentasi bentuk yang membuat sastra kehilangan gairah perlawanannya.”

DAMHURI MUHAMMAD

Cerpenis, editor buku

tinggal di Jakarta

 

sampaikan opini/komentar anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s