Sajak-Sajak

Campendonk_RiderWithLasso1911# Selamat Malam    

Waktu yang merenggutmu dari takdirku adalah puisi paling sunyi yang digariskan di atas kanvas sebagai lukisan surgawi yang maha ngeri. Tujuh puluh ribu kehilangan yang kutempuhi menjadi rindu tanpa penghabisan; menjelma kutukan bumi dari nyanyian waktu yang menyuguhkan kepedihan yang kau kira lukanya disebabkan persetubuhan paling kelam malam itu; senggama dari ribuan nafsu dalam gejolak paling pasang dari gelombang jiwa yang nganga disapu rasa hampa yang ingin digenapi janji persekutuan abadi tanpa dinding dan puisi. Persetubuhan asmara kita malam itu meniti tiap jengkal dari tebing samudara yang menggelegar di antara leher dan dagumu. Malam kini samudera itu masih kah ada? Selamat malam, tapi apakah ini malam?

2013

 # Malam di Mata Lembutmu

Malam yang sekarang bukan malam yang kemarin, tapi malam memanglah malam pada malamnya yang kelam; dihujam-hujamnya segala yang tajam kedalam dirinya seperti sebuah ritual kehampaan, malam yang muram bagi jiwa yang menyunggingkan hasrat kebebasan.

Tumpah ruah pada malam kini, kesepian pada tempatnya sendiri, sesunyi-sunyinya, disandarkan kepada hening yang nyaris tak dapat dikenangnya.

O, kemana ramai lampu kota dan canda kepiluan dari cinta yang ditaruh dibibir nasib, pada malam kini tak ada yang mencari malam. Malam pada malamnya sendiri, berjajar seperti barisan waktu yang berdetak lirih-lirih pamit berlalu.

Bahasa tiba-tiba menjadi berat, bobotnya seperti mendung luluh lantahkan bunyi dari setiap kidung yang dibunyikan dengan bahasa yang berat seperti suara jazz yang tak pernh ingin berhenti dalam jeda-jeda yang mematah-matahkan rasa menjadi gelombang rasa yang aduhai berat serupa tubuh telanjang di etalase toko yang memajang kenangan ketaktergapaian, duh aduhai… pada tangismu yang tak bisa kudengar lah bahasa kerap kali kurebahkan; tapi apa kau tahu?

Sebuah tatapan menyelinap, kupandang jelas pada bola mata yang terpelanting dalam kolam jiwa yang maha meragu, pandanganmu yang biasanya, tatapan mata lembutmu…

2013

#  Sunyi

Tak ada kelambu rindu bagi dingin di malam kelabu; sejengkal jarak dari jiwa yang mengamuk meluluhlantahkan setiap gejolak; mengubahnya menjadi diam yang melesatkan segala gerak. Cinta menjelma onggokan bisu dari karang dada yang menyesak; kapankah ia berganti rupa? jadi deburan ombak yang menggelombangkan hasrat rindu agar terpecah sunyi.

Aku menelan sendiri ribuan tanya yang pada wajah lelapmu berganti menjadi rahasia paling purba di mana gelap dan cahaya dipersatukan oleh kegamanganmu. Cinta yang dulu hamparan kebebasan menjelma bulir dari tiap keterasinganmu; Aku jadi senyap jadi sebutir awan jadi sungai yang mengalirkan air ke jauh, tak pernah tahu perahu kertasmu di hilir yang mana, lalu malam berakhir dengan segala kebisuan; bagai air surut dari kali jiwa setelah gemuruhnya hempas.

2013

sampaikan opini/komentar anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s